Hai hai :D
Udah baca belum cerita perjalanan menuju puncak Ungaran? Kalo belum, silakan baca disini yah :D
Cuplikan post sebelumnya:
"Kyaaaaa rasanya seneeeennngggg buwangggeeeettt!!! Mau teriak tapi saat lihat jam, ups, ternyata udah jam 21:30 aja. Gila! Berangkat jam 1 siang sampai puncaknya hampir tengah malam, cobaa! Kita langsung berdiriin tenda saat itu karena emang udah capek banget. Bentuk tenda kita nggak karuan, yang harusnya guede dan muat 6 orang, ini buat 5 orang aja umpel-umpelan. Setelah tenda berhasil dibuat, para lelaki langsung masak mie instant sedangkan aku bersihin badan dan ganti baju di dalam tenda. Keluar dari tenda aku dibuat terpukau, mereka mencampurkan mie instant rebus rasa ayam bawang, rasa soto ayam dan mie instant goreng ke dalam satu panci dan bumbunya dimasukkin semua ke dalamnya. Hm, lezat sekali :') Berhubung lapar, mie campur aduk itu terasa enaaaaaaakkkkkkkkk bangetttt di lidah juga di perut. Udah kenyang, kita pun bergegas tidur karena emang badannya loyo semua hahahaha :D"
Sekarang, aku mau ceritain pengalaman waktu menikmati pemandangan matahari yang mulai keluar dari peraduannya dan waktu kita berlima turun gunung, juga waktu kita dalam perjalanan balik ke Jogja. Setiap perjalanan pasti menyimpan cerita, dan cerita itu nggak dibangun dalam waktu yang singkat, jadiii....siap-siap untuk scrolling -scrolling terus karena cerita perjalanan ini lumayan panjang :D
Selesai makan, kita tidur berjubelan berlima di dalam tenda yang nggak jelas bentuknya di atas permukaan yang nggak rata. Aku dapat posisi paling pojok, yang paling nyempil karena badanku paling kecil di antara 4 pria itu. Aku membungkus badanku dengan baju tebal, jaket tebal, syal, sarung dan sleeping bag, ga berasa dingin, cuy! *yaiyalah* Cuma, aku ngerasa kasian sama beberapa pendaki yang tidur di luar, mereka tidur dengan posisi duduk dan hanya berbungkus sleeping bag dari telapak kaki sampai pinggang, sedangkan pinggang ke atas mereka tutupin pake sarung. Gilaaa, kaya apa dinginnya, yah!
Sejujurnya, aku nggak bisa tidur nyenyak saat itu karena pendaki terus berdatangan dan beruntungnya, tepat di sebelah tenda bagian aku tidur tuh ada lahan kosong. Jadilah para pendaki yang baru sampai bikin tenda disitu. Rada was-was waktu mereka masang pasak, takutnya alih-alih nancap ke tanah, pasaknya malah nancap di kepalaku lagi, eewww!


