The LORD is my shepherd; I shall not want.
- Psalms 23:1
Showing posts with label Pendapatku. Show all posts
Showing posts with label Pendapatku. Show all posts

Monday, July 14, 2014

Pemilu Presiden Ini Aku Gagal...

Hai!

Emang rada telat untuk menerbitkan post ini, harusnya dipublish tanggal 9 kemarin supaya momennya pas. Yah, apa daya tanggal 9 waktuku habis untuk siap-siapin kebutuhan pendakian gunung Prau tanggal 10, jadi yaa...baru sempat sekarang deh.

Sebelumnya, aku mau menekankan kalau isi dari postingan ini murni subyektif. Juga, aku ga memasukkan unsur politik atau masalah lampau yang sering banget dikumandangkan di Pilpres kali ini karena aku nggak ngerti apa-apa tentang hal itu. Biarlah aku menulis tentang apa yang aku tau aja, daripada sok tau dan ternyata salah, ya kan kan kan?

Jadi, pemilu Presiden 2014 ini adalah kesempatan pertama kali dalam hidupku untuk menggunakan suara dan memilih pemimpin negara Indonesia tercinta ini. Jujur, aku nggak terlalu tertarik untuk memanfaatkan hak pilihku, bahkan aku berencana untuk tetap datang ke TPS tapi merusak surat suaranya, bikin gambar hati di kertasnya yang gede biar unyu dan anti-mainstream gitu. Ini terjadi karena dari kecil aku udah skeptis duluan sama hal-hal berbau politik, udah jengah banget melihat gimana caranya dia (baca: politik) memporak-porandakan masa kecilku. Aku mikirnya, politik itu kotor dan penuh dengan orang licik. Ya, aku nggak belajar politik memang dan nggak tertarik juga, jadi mohon dikoreksi kalau pandanganku ini sangat dangkal.

Pada Pemilu Legislatif bulan April lalu, aku malah asyik-asyikan tidur di kos disaat orang lain rame-rame berbondong ke TPS (padahal bagian depan kosku dijadiin TPS). Seharusnya aku pulang Klaten untuk mencoblos, tapi aku ogah karena toh aku nggak tau mau milih siapa, kenal sama calegnya aja enggak. Perasaan takut salah pilih dan skeptis selalu muncul, ini karena aku pernah diajak mamaku ke acara yang katanya ibadah tapi ternyata dijadikan alat kampanye sama salah seorang caleg, mana abis itu ada acara bagi-bagi duit yang diembel-embeli "uang transport" pula. BHAH! Pandanganku benar-benar buruk sama caleg-caleg itu dan aku menolak memberikan suaraku untuk mereka.

Selepas Pileg, datanglah Pilpres. Dari sekian banyak promosi, iklan, kampanye sampai acara "menyamar" yang dilakukan para bapak-bapak yang mencalonkan diri sebagai Presiden, nggak ada yang bikin aku tergugah dan merasa harus menggunakan hak pilihku. Toh, orangnya juga itu-ituuu aja, udah ketebak nanti bakal jadi kaya gimana kalau mereka memerintah. Jengah sama orang-orang yang berkali-kali mencalonkan diri sebagai Presiden, rasanya mereka itu haus banget sama jabatan. Padahal, jadi Presiden kan tugasnya nggak segampang tidur di rapat paripurna.

This photo was taken on July 19, 2014 at Ngarsopuro Street, Solo.

Kemudian, sesaat sebelum pendaftaran Calon Presiden dibuka oleh KPU, muncullah sosok yang sering dielu-elukan untuk maju ke kursi kepresidenan. Siapa lagi kalau bukan Jokowi, cah Solo yang sering dicibir karena mukanya "ndeso". Melihat beliau mendeklarasikan diri sebagai Capres, harapan untuk sesuatu yang baru langsung muncul, rasa skepstisku perlahan-lahan menghilang. Alasannya? Simple. Karena aku mengagumi sosok beliau sejak aku nonton pagelaran Solo Batik Carnival 1 di tahun 2008. Aku ceritain secara singkat yah asal mula perasaan kagum terhadap pak Jokowi ini muncul. 

Wednesday, May 21, 2014

Marah-marah; Arogan atau Tegas?

Hai hai!

Disaat seharusnya mengerjakan tugas kuliah, aku malah tergelitik buat ngeblog karena refleksi yang tiba-tiba muncul di kepala. Terinspirasi dari sebuah artikel yang aku baca barusan tentang reaksi Gubernur Jawa Tengah saat memergoki pungli dan langsung keesokan harinya 281 petugas dipanggil untuk dievaluasi. Berlebihan nggak sih reaksinya pak Ganjar ini? Untuk aku pribadi, justru itu reaksi yang tepat untuk menyikapi fenomena pungli. Seandainya beliau santai-santai aja, mungkin pelanggaran pungli nggak akan pernah diusut.

http://www.youtube.com/watch?v=5wGuceoSno0

Semua orang pasti mengenal sosok Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, Wakil Gubernur DKI Jakarta saat ini yang disebut-sebut hobi marah-marah. Beliau nggak ragu untuk marah-marah bahkan gebrak meja saat rapat jika dia menemukan penyimpangan; hal yang harusnya mudah tapi dipersulit. Beberapa orang menganggapnya sebagai tindakan yang kurang beretika, aku pribadi berpendapat justru dia harus melakukan itu supaya nggak dianggap enteng atau bahasa Jawanya digampangke sama pelaku penyimpangan.

http://tribunnews.com

Beberapa waktu yang lalu aku dan temanku pernah kerepotan ngerjain tugas kuliah sampai-sampai kita stress, mana waktu mau konsultasi langsung ke dosennya beliau udah pulang lagi padahal deadline tugas semakin mendekat. Jadilah aku yang hebring ini update status di Twitter biar eksis abis gitu *cih*, nggak disangka tweet yang menggambarkan kelimpunganku dalam mengerjakan tugas ditanggapi oleh seorang dosen dan berujung ditawari konsultasi (ilegal) supaya nggak bingung lagi. Lho, kenapa ilegal? Soalnya beliau bukan dosen pengampu mata kuliah itu, hehe. Singkat cerita, selesai kita konsultasi di rumahnya temanku keheranan, "Nggak nyangka ya, aku kira dia (dosen yang menawari konsultasi ilegal itu) killer ternyata perhatian banget." Ya, gimana engga perhatian, di hari libur nasional beliau mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan curhatan galau akademik para mahasiswa gaje ini. Mana sebelumnya beliau minta dikirimin hasil pekerjaan kita dan...kita ngirimnya tengah malam; temanku ngirim jam 12 malam sedangkan aku jam 1 pagi. Bayangkan! Kalo bukan mahasiswanya, mungkin kita udah dijadiin cupcake, hahaha!

Menurut aku, wajar saja kalau dosenku ini memasang aura "pembunuh" dengan tugas yang tiada pernah berhenti setiap minggu dan aturan-aturan sepele tapi ketat yang harus ditaati. Misalnya beliau jadi dosen yang mentoleransi setiap pelanggaran mahasiswa sekecil apapun itu, mungkin mahasiswa akan bersikap seenaknya sendiri di kelasnya.

Melihat sikap pak Ganjar, pak Ahok dan dosenku tersebut, aku berpendapat kalau terkadang, "taring" memang harus diperlihatkan, cuy. Bukan untuk menunjukkan arogansi tapi lebih ke sifat tegas supaya nggak gampang diremehkan orang lain. Arogan dan tegas itu dua kata yang punya arti berbeda lho. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, arti dari kata arogan adalah "mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah" (2005:66), sedangkan kata tegas memiliki arti "tentu dan pasti (tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar)" (2005:1155). Dalam menyikapi masalah, sifat arogan ini lebih ke memaksakan kehendaknya pribadi untuk memecahkan masalah; mau itu benar atau salah, pokoknya harus argumen dia yang dipakai. Sedangkan tegas itu lebih mengacu pada menegakkan peraturan yang memang pasti dan sah walaupun itu bertolak belakang dengan opini yang dimiliki. 

Secara pribadi, aku kagum lho sama orang-orang tegas yang tentunya selain tiga tersebut di atas masih banyak bertebaran di dunia ini. Kenapa? Karena mereka berani mengambil keputusan untuk berpegang pada peraturan walaupun banyak desas-desus pencitraan, kejam, galak dan sebagainya beterbangan di sekitar. Buat aku yang masih dalam tahap pendewasaan ini, susah lho untuk cuekin omongan-omongan miring tentang diri sendiri, perlu mental yang kokoh juga telinga yang kuat.

Sifat tegas memang sangat dibutuhkan supaya nggak gampang dianggap enteng sama orang lain, tapi jangan sampai ketegasan itu berubah menjadi arogansi. Alih-alih menegakkan kebenaran, bisa jadi sendirinya nanti yang menyimpang. Maka dari itu, yuk, belajar bersama jadi orang yang tegas :D

Terimakasih sudah membaca :D
Kritik, saran atau komentar sangat diharapkan :D
Take care, GBUs!


Tuesday, May 6, 2014

Haruskah Tangan Menadah Dibudidaya?

Sudah terlalu sering aku dikatain, dipelototin dan dibentak-bentak karena aku menolak menyisihkan sebagian kecil uangku untuk pengemis. Beberapa mungkin akan menilai aku sebagai orang yang kikir dan pelit, well, let me tell you the reason behind it.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2013/07/23/melihat-pengemis-di-tanah-suci-576034.html
Malam ini waktu lagi makan sama pacar di lesehan di bawah flyover Janti, ada seorang gadis muda dengan tubuh proporsional dan pakaian pantas (nggak kucel, kumuh, kusam ataupun lusuh) menghampiri dan menyodorkan amplop bertuliskan "Mohon bantuan..." kemudian ngeloyor pergi. Pacar dan aku sama sekali nggak bergeming, amplop pun dibiarkan di lantai saja, ya kita lagi enak-enak makan pakai tangan gitu, lho. Lalu si gadis pengemis ini datang lagi, pacar langsung menyodorkan amplop yang kosong. Bukannya langsung pergi, eh si gadis pengemis ini merayu-rayu pacarku minta duit padahal si mas Dody udah nolak berkali-kali, saking jengkelnya aku langsung melambaikan tanganku tanda menolak. Tau gak, si gadis itu pergi sambil melotot ke arahku!

Nggak berapa lama, di ujung jalan ada seorang ibu menggandeng anaknya yang sedang menenteng gelas plastik bekas berisi recehan uang. Benar saja feelingku, ibu dan anak ini menghampiri aku dan pacar, yang bikin nggak habis pikir, ibunya ini membimbing anaknya untuk menyodorkan gelas plastik itu ke hadapanku. Dengan tegas tapi sopan aku dan pacar bilang, "Nggak, dek." Ibu dan anak ini langsung pergi mencari lapak lain. Beberapa menit kemudian, ada anak kecil usia 3 tahun yang nempel-nempel punggung pacarku dari belakang, awalnya aku pikir dia anak empunya warung, lho. Guess what, si anak ini ternyata membawa gelas plastik bekas yang telah terisi rupiah dan dia mondar-mandir di jalan sendirian! Emosiku mendidih saat itu, aku nggak habis pikir, orangtuanya tuh kemana? Apa motivasi orangtuanya bikin anak kalo cuma di-ler gitu aja di jalanan??

Sunday, April 13, 2014

#Challenge13: Yes, I'm tiny and I love it!

Challenge 13: Your opinion about your body and how comfortable you are with it

Holllaaaaa :D

Selama hidup aku sudah kenyang sama ejekan macam, "Kamu cacingan, ya?" "Pasti nggak suka makan, ya?" bahkan ada yang paling parah, "Kamu nggak anoreksia, kan?" PUHLEASE! Kurus bukan berarti punya penyakit dan diet setiap saat, cuy.


Menurutku, tubuh yang aku miliki sekarang ini adalah tubuh terbaik dan sesuai untuk aku. Badanku memang kurus banget, hampir rata kaya triplek kalau dilihat dari depan, bahkan kalau misalnya rambutku ini dipotong cepak kaya cowok, orang bakal mikir aku cowok beneran karena dadanya rata. Coba deh, hal paling pertama yang digunakan untuk menandakan gender seseorang waktu bingung itu apa? Kalau aku sih dadanya diikuti dengan jakun, hehe!


Wednesday, April 9, 2014

#Challenge9: Bukan Sekedar Gelar

Challenge 9: How important do you think education is?

Haihai! :D

Siapa sih yang nggak pernah merasakan proses belajar selama hidupnya? Bahkan dari bayi manusia sudah merasakannya, lho! Misal: berdiri, nggak mungkin baru lahir langsung bisa berdiri, pasti belajar dulu.

Buat aku, pendidikan itu salah satu komponen utama dan terpenting di dalam hidup. Nggak melulu harus masuk ke instansi formal untuk mengecap pendidikan, nggak harus juga punya gelar sampai sepanjang kereta untuk belajar. Belajar itu bisa dari apa saja, siapa saja, dimana saja dan kapan saja, kok. Dari seorang nelayan bisa belajar bagaimana caranya bersinergi dengan alam tanpa merusaknya, dari seorang anak kecil bisa belajar ketulusan dalam memberi. Apapun, siapapun bisa dijadikan guru (kalimat yang sudah sangat klise).

gambar disadur dari: http://dena-a--fst09.web.unair.ac.id/artikel_detail-66714-Umum-Kenapa%20Butuh%20Gelar%20Sarjana.html
Seperti yang aku bilang tadi, nggak perlu nunggu gelar dulu untuk belajar. Terkadang, orang yang gelarnya berderet-deret itu nggak terpelajar, lho. Dalam institusi pendidikan, menurutku yang terpenting adalah proses karena pada perjalanan untuk mencapai hasil itulah pembelajaran berlangsung. Proses itu pilihan sebenarnya, bisa diambil bisa tidak, kalau tidak mau merasakan prosesnya, ya jadilah seorang bergelar tinggi yang tidak berpendidikan.

Monday, April 7, 2014

#Challenge7: Pencet Klakson Sampe Jebol!

Challenge 7: Five pet peeves

Haihai!
Kalau kamu mikir tantangan hari ini ada hubungannya sama binatang peliharaan karena ada kata "pet"-nya, kamu salah, cuy tapi kamu bukan satu-satunya orang yg berpikiran kaya gitu kok. Si penulis inih juga awalnya mikir bakal nulis tentang 5 hewan yang ditakuti, tapi setelah buka kamus baru ngeh pet peeves itu apa. Hahahaha *tutupin muka pake baskom*

Apa tuh pet peeves?

Menurut Merriam-Webster Mobile Dictionary, pet peeve adalah sesuatu yang terus-terusan bikin kamu ngomel, protes dan komplain. Jadi nggak ada hubungannya sama sekali ternyata sama binatang. Hehe :B


Sunday, April 6, 2014

#Challenge6: Kreativitas Itu (Harusnya Nggak) Terbatas

Challenge 6: Your views on mainstream music.

Haihai! :D

Sebenarnya aku ini bukan anak musik yang gaul gitu. Jujur, referensi musikku dikit banget, I listen to whatever music I like jadi walaupun misalnya musik A lagi ngetren dan semua orang dengar musik itu, kalau aku nggak suka ya aku nggak mau dengar. Sumber referensi musikku dulu itu radio, waktu jaman SMP aku udah ngerasa gaul banget karena saat teman-temanku dengerin Kangen Band aku lebih milih buat dengerin d'Cinnamons. Apakah itu berarti selera musikku bagus? Ah, nggak juga. Gini-gini aku pernah simpan lagu-lagu ST12 di hape waktu SMA :'D

Eh, bentar, sebelum membahas tentang musik mainstream, sebenarnya udah pada tau belum sih definisi dari kata mainstream? Menurut Oxford Advanced Learner's Dictionary, mainstream adalah suatu anggapan, perilaku dan/atau selera mayoritas masyarakat yang pada akhirnya dianggap lazim atau biasa. Bisa dibilang musik mainstream itu mengikuti selera masyarakat.


Thursday, April 3, 2014

#Challenge 3: Carpe Diem Learned From "Before I Fall"

Third day's challenge: A book you love.

Hai hai!

Hampir aja lupa buat nulis tantang ketiga ini! Oke, tantangan untuk hari ini adalah menulis tentang buku favorit, satu aja. Banyak buku yang udah aku baca dan aku suka, mayoritas sih novel-novel drama remaja yang penuh dengan bumbu manis nan romantis gitu. Kalau disuruh milih satu, untuk saat ini buku favoritku adalah novel remaja berjudul Before I Fall karangan penulis Amerika, Lauren Oliver.



Buku ini menceritakan tentang seorang gadis populer bernama Samantha Kingston yang mendapatkan kesempatan untuk mengulang hari kematiannya sebanyak 7 kali. Selama mengulang-ulang hari kematiannya ini, dia merasakan berbagai hal berbeda yang nggak pernah dia rasakan sebelumnya. Yang sebelumnya dia selalu diterima dalam bergaul, dia merasakan rasanya ditolak. Yang biasanya makan di kantin semeja sama anak-anak populer lainnya, dia merasakan makan di dalam toilet layaknya anak terkucilkan. Setelah enam kali mengulang hari kematiannya, akhirnya pada hari ketujuh perjalanannya benar-benar berakhir saat dia menyelamatkan seseorang yang nggak pernah dia pikirkan sebelumnya.

Yang bikin aku suka sama buku ini adalah setelah selesai baca, tanpa sadar aku perlahan belajar untuk memanfaatkan waktu yang aku punya sekarang. Aku nggak tahu kapan aku akan 'dipanggil', aku juga nggak akan mungkin mendapatkan kesempatan untuk mengulang hari kematianku selama 7 hari dan memperbaiki semua kesalahanku, jadi aku belajar untuk benar-benar memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya. Aku mulai belajar untuk pede dan nggak malu dianggap aneh, karena pikirku saat aku udah nggak ada nanti orang-orang justru akan mengenang aku melalui keanehan yang nggak bisa ditemui di orang lain, selain aku tentunya. Aku juga belajar untuk mengekspresikan perhatian dan sayangku sama orangtua tanpa malu-malu lagi karena aku takut nggak bisa mengekspresikannya lagi di lain waktu. Memang hidup harus optimis, tapi aku kan nggak tau masa berlaku ku di dunia ini sampai kapan. Lewat buku ini, aku mengerti kalau waktu harus dimanfaatkan dengan baik supaya nantinya manusia nggak pergi dengan penyesalan. Selagi ada waktu, nikmati aja apa yang bisa  dilakukan selama berada di dunia ini. Mumpung dikasih kesempatan, hajar aja sekalian. Mumpung bisa milih, kenapa harus tenggelam dalam kesedihan kalau bisa bangkit dan bahagia? Kalo ngikutin istilah yang sempat happening banget beberapa waktu lalu tuh YOLO, you only live once. Live your life so you'll not leave in regret.

Nah, itu buku yang aku suka dan alasanku kenapa bisa suka sama buku itu. Kalau kamu, buku yang kamu suka apa? Trus kenapa kok bisa suka buku itu? Bagiin di komentar dong, atau bikin post sendiri aja di blog kamu, jangan lupa cantumin link biar aku bisa baca dan kita bisa saling berbagi :D

Terimakasih sudah berkunjung dan membaca :D

Take care, God bless us!

Wednesday, April 2, 2014

#Challenge 2: Kepo!

Hai hai :D

Butuh waktu lama buat aku mengerti maksud dari #Challenge nomor 2 yang berbunyi "Something you feel strongly about" ini, sampai-sampai aku buka google buat referensi. Ternyata oh ternyata, yang dimaksud adalah keprihatinanku terhadap sesuatu.



Sejak munculnya kata "kepo", aku adalah orang yang sering banget dijuluki "kepo" sama teman-temanku karena selalu pengen tau apa yang terjadi sama mereka. Dulunya, sebelum kata itu terbentuk, aku nggak pernah lho dikatain "kepo", malah seringnya aku dan teman-teman sharing masalah masing-masing siapa tau bisa saling bantu atau sekedar jadi pendengar yang baik. Jujur, setelah sering dikatain "kepo" aku jadi malas tanya-tanya sama seseorang karena takut itu bisa melanggar privasi dia. Dari apa yang terjadi ini, aku mikir, jangan-jangan nanti orang makin nggak peduli lagi dengan sesamanya.


Tuesday, April 1, 2014

#Challenge 1: 5 Kriteria Cowok yang Bikin Klepek-klepek

Hai hai!

Hahaha apa banget ya ini topik bahasannya, rada nggak jelas dan emang nggak penting tapi tetep aja mau ditulis. Jadi cuy, aku lagi ikutan semacam blog challenge gitu untuk menulis selama 30 hari. Melihat aku males nulis, ngeblog biasa cuma pas jalan-jalan aja padahal itu terjadi beberapa bulan sekali, aku memutuskan buat cari blog challenge list di google. Dari sekian banyak list yang disortir, aku nemu ini yang menurutku emang rada absurd tapi sebenarnya seru buat ditulis.

Sebenarnya niatan untuk ikut tantangan ini bukan cuma muncul dari kesadaran akan rasa malas doang sih, tapi karena suka baca blognya dosenku yang gahul Miss Tata dan blognya kakak tingkatku mbak Pucil yang udah lebih dulu ikutan challenge begini. Main-main deh ke blog beliau berdua ini, postingannya asyik buat dibaca sambil leha-leha, lho :D

Baiklah, mari membahas topik untuk hari pertama. Di listnya itu tertulis 5 cara untuk mendapatkan hatiku. Hahaha, rada geli juga sih waktu bacanya. Takut-takut ini nanti malah jadi panduan gitu buat para lelaki disana yang mau bribik (baca: flirting, gebet) akuh *HAHAHA* *abaikan* Sebenarnya aku nggak yakin sih ada cara khusus atau nggak bagi seorang lelaki untuk mendapatkan hatiku, ceileh. Soalnya, biasanya tuh yang naksir duluan akuuh. Kaya sama pacarku ini, yang duluan naksir kan aku karena gigi dia lucu kaya drakula. Iya, emang nggak penting dan aneh banget alasanku naksir dia.

Berhubung nggak ada cara spesifik untuk mendapatkan hatiku, jadi aku ubah aja ya jadi 5 kriteria cowok yang bisa mendapatkan hatiku, atau dalam kata lain bisa bikin aku klepek-klepek.

Thursday, January 30, 2014

7 Akun Socmed yang Biasanya Dikepoin

Sejak tahun 2013 kemarin muncul kata "kepo" yang sebenernya nggak ada yang tahu pasti ini kata asalnya darimana dan artinya apa. Biasanya sih kata kepo ini dijuluki kepada orang yang penasaran banget dan pengen tahu sesuatu gitu. Kalo sebelumnya orang yang pengen tahu tuh dikatain, "Mau tau aja deh ih!" sekarang istilahnya dipersingkat jadi, "Kepo deh ih!"

Kepo itu baik sih sebenarnya karena salah satu bentuk perhatian terhadap sesama. Bayangin deh kalo nggak ada orang kepo, bakal acuh dan ga peduli satu sama lain cuy! Bakal banyak antis (anti-sosial, bukan hand sanitizer) bermunculan di dunia ini, hiks! Menyeramkan!

Aku sendiri adalah salah satu orang yang sering dijuluki kepo dan aku mengakui itu, soalnya aku nih emang orangnya pengen tau banget. Pengen tau banget Nikita Willy itu perawatan di salon apa kok bisa terlihat dewasa gitu. Nggak penting emang, namanya juga kepo, harus banget kah kepoin hal yang penting? Haha :D


Cara yang dipake untuk ngepo itu banyak sekali, bisa dimulai dari nanya-nanya ke orang sekitar, stalking akun jejaring sosial sampai utak-atik handphone si obyek kepo. Dari sekian banyak cara, yang paling mainstream sekaligus paling mudah sementara ini adalah mengakses akun jejaring sosial si obyek. Kalo nanya langsung kan biasanya gengsi ya, ntar dibilang ngurusin kehidupan orang lain lagi. Kalo yang terakhir itu... Hm, mending jangan dipraktekkin deh karena berpotensi menimbulkan masalah di dalam kehidupanmu, cuy. 

Untuk melakukan kegiatan mengepo, pastikan udah ada obyek untuk dikepo dulu. Kalo belum ada obyeknya ya sama aja podo karo sami mawon to yo, nggak bisa terwujud itu niat luhur berbagi pedulinya. Kalo emang gatau mau kepo siapa, nih aku kasih daftar akun-akun jejaring sosial yang biasanya dikepoin.

Tuesday, January 28, 2014

Kreativitas Itu Keterbatasan

Di jaman canggih seperti sekarang, makin banyak aja nemuin lowongan kerja yang mencantumkan kreativitas pada kriteria calon pelamarnya, dan untuk memenuhi kebutuhan perut tentu saja banyak orang yang mencantumkan kata yang menurut KBBI memiliki arti kemampuan untuk mencipta di dalam curriculum vitae-nya.

Gambar disadur dari sini


Kreativitas di mataku

Menurutku pribadi, kreativitas itu unik karena semua orang pasti punya komponen ini dalam dirinya, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Aku pribadi jujur kagum dengan orang-orang yang kreativitasnya tinggi, mampu menciptakan sesuatu yang di luar kotak--yang nggak mau mengikuti aliran trend. Kalo anak gahul biasa bilang sih orang kreatif ini anti-mainstream, walau kadang mereka gamau disebut anti-mainstream karna anti-mainstream itu sendiri mainstream hehehe

Di mataku, kreativitas itu muncul saat seseorang dalam posisi kekurangan padahal lagi butuh. Sekedar cerita, dulu aku pernah pengeeeennn banget bisa main badminton, tapi sayangnya aku ga punya raket dan kok. Kalo minjem terus ke tetangga kan yo nggak penak to yo, yang punya kan pasti pengen pake juga. Kasian mungkin liat anaknya mupeng (muka pengen) nonton orang main badminton, akhirnya Papa-ku membuatkan aku dan adik set badminton darurat. Lha kok darurat? Hehe, jadi raketnya itu terbuat dari papan triplek yang dibentuk kotak dan ada gagangnya, sedangkan koknya sendiri terbuat dari kerikil kecil imut yang dibungkus kertas dan dilapisi lakban. Bisa gitu mainan pake alat kaya gitu? Bisa aja, cuma ya ga seenak pake raket bersenar nilon.

Pagi ini waktu lagi ngobrol sama seorang teman tentang pentas Beauty and the Beast (yang penasaran sama pertunjukan ini bisa klik disini untuk artikelnya dan disini untuk beberapa fotonya) kita dulu, otakku jadi menjabarkan arti dari kata kreativitas, lebih tepatnya merefleksikan sih. Hasil refleksi dari otakku ini adalah kreativitas itu muncul saat keterbatasan ada. Lho, kenapa gitu? Gini...

Tuesday, September 13, 2011

Jaim itu penting,tapi...

        Buat sebagian besar orang jaim alias jaga image itu penting banget buat mereka. Misalnya nih,mau makan sendoknya kudu dilap dulu,trus kalo milih baju juga cermat banget,bahkan dalam berbicara ada juga yang sangaaaat berhati-hati. Contohnya teman kuliahku nih,sebut saja namanya Melati *halah* enggak enggak,namanya Tabita,asalnya dari Bogor. Cantik,17 tahun,smart,single #eeeeaaa Dia itu termasuk tipikal orang yang jaim dan sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu,contohnya seperti yang aku bilang di kalimat nomor 2 itu loooh.

Sunday, June 26, 2011

Hukum Menabur dan Menuai

Sejak blog yang duluuuuu jaman aku masih alay sampai blog yang sekarang di jaman aku udah nggak terlalu alay,aku jarang banget nulis sesuatu yang penting buat di share ke orang-orang. Bener deh. Sampe pernah waktu aku iseng share alamat blog di Facebook ada yang komen gini,

"Fungsi dan tujuan blog kamu itu apa sih? Cuma buat buku harian gitu doang ya?"

*JLEB* Jadi bingung deh aku mau jawab apa. Kalo katanya kak Raditya Dika,blog itu semacam Diary Online kan? Jadi nggak salah dong aku jadiin blogku sebagai buku harian? Karena bingung mau jawab apa,yaudah deh aku jawab ajah,

"Iya blogku semacam buku harian kak,hehe"

Trus si pengkomen itu ikutan share alamat blog dia dan waktu aku buka...blognya isinya tentang informasi gadget semua. Jujur aja yaa,aku ini termasuk orang yang kudet (kurang update) dan rada-rada gaptek (gagap teknologi) juga.

Sebagai contoh,waktu fixie lagi tenar-tenarnya aku bener-bener nggak ngerti apa itu fixie? Kenapa harganya bisa mahal? Apa bedanya sama sepeda biasa?


Dan aku baru ngerti apa bedanya fixie sama sepeda lain baru beberapa minggu belakangan ini waktu temennya Papa main ke rumah bawa fixie.
Menurut aku nih ya,bedanya fixie sama sepeda-sepeda lain itu

  • Warnanya ngejreng  
  • Velgnya pipih  
  • Nggak ada remnya  

Udah itu doang. Hahaha

Brrr ini kenapa malah bahas sepeda fixie sih!?

Oke,sekarang aku mau share sedikit pengalaman pribadi yang mungkin bisa bikin para pembaca blog ini terinspirasi.

Saturday, June 25, 2011

Apa Aku Salah Jurusan? #galauakademis

Tadi pagi,waktu lagi tidur-tiduran di kamar tiba-tiba terlintas pikiran "Apa aku salah masuk jurusan ya?". Pikiran itu dateng begitu saja saat aku lagi bernostalgila kembali ke jaman dahulu kala #eeeeaaaa waktu aku masih kelas 1 SD.